SPASIKALTIM.COM, BONTANG – Banyak masyarakat masih memiliki pemahaman yang keliru tentang makna investasi. Tak sedikit yang menganggap bahwa investasi hanya berkaitan dengan penanaman modal besar bernilai miliaran rupiah dan membuka ratusan lapangan kerja. Padahal, pengertian tersebut terlalu sempit.
Kepala Bidang Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Bontang, Karel, menjelaskan bahwa persepsi seperti itu justru membuat sebagian masyarakat beranggapan bahwa tidak ada investasi di Bontang. Faktanya, aktivitas investasi tetap berjalan, baik dalam skala kecil, menengah, maupun besar.
“UMKM itu termasuk investasi. Tapi yang sering dianggap investasi ya yang besar-besar saja,” ujar Karel saat ditemui di kantornya, Jalan Awang Long, Kelurahan Bontang Baru, Kecamatan Bontang Utara, Selasa (29/10/2025).
Ia mengutip Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, yang menyebutkan bahwa investasi adalah segala bentuk kegiatan penanaman modal, baik oleh penanam modal dalam negeri (PMDN) maupun asing (PMA), untuk menjalankan usaha di wilayah Indonesia. Dengan demikian, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga termasuk bagian dari kegiatan investasi.
Menurut Karel, penting bagi masyarakat memahami definisi investasi secara menyeluruh agar tidak terjebak dalam persepsi keliru. Salah satu indikator bahwa investasi tetap berjalan di Bontang adalah terbitnya Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Nomor Induk Berusaha (NIB) setiap hari melalui sistem Online Single Submission (OSS).
“Masyarakat mungkin tidak melihat investasi besar datang setiap saat, tapi bukan berarti tidak ada investasi sama sekali. Setiap izin usaha yang terbit itu bukti bahwa kegiatan investasi berjalan,” jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun investor besar tidak selalu masuk setiap waktu, Pemerintah Kota Bontang melalui DPM-PTSP terus berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif. Upaya tersebut dilakukan melalui penyederhanaan proses perizinan, peningkatan layanan berbasis digital, serta promosi potensi unggulan daerah.
“Kami berharap masyarakat tidak salah kaprah. Jangan sampai mengira tidak ada investasi, padahal ada. Hanya saja skalanya mungkin kecil atau menengah,” pungkas Karel.





