SAMARINDA, SPASIKALTIM.COM – Perkembangan fasilitas dan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda menunjukkan kemajuan yang cukup pesat. Salah satunya ditandai dengan meningkatnya kemampuan rumah sakit dalam menangani bayi prematur dengan berat badan di bawah 700 gram.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, mengapresiasi perkembangan tersebut. Menurutnya, kemampuan RSUD IA Moeis dalam menangani pasien bayi dengan berat badan sangat rendah menunjukkan adanya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, baik dari sisi tenaga medis maupun fasilitas pendukung.
“Sekarang dengan berat badan 700 gram sudah bisa dilayani dan pasiennya hidup. Ini tentu perkembangan yang sangat luar biasa,” jelas Puji, Jumat (4/9/2026).
Ia menjelaskan, sebelumnya kemampuan penanganan bayi prematur dengan berat badan rendah di RSUD IA Moeis belum maksimal. Bahkan, penanganan bayi dengan berat sekitar 1,5 kilogram masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Namun, seiring perkembangan ilmu kedokteran dan peningkatan fasilitas kesehatan, kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kepada pasien dengan kondisi khusus kini semakin meningkat.
“Ini menunjukkan perkembangan ilmu kedokteran saat ini makin berkembang, termasuk alat-alatnya,” tuturnya.
Selain penanganan bayi prematur, Puji juga menyoroti peningkatan layanan bagi pasien thalasemia di RSUD IA Moeis. Saat ini, tercatat sebanyak 74 pasien thalasemia mendapatkan penanganan di rumah sakit tersebut.
Menurutnya, ketersediaan kebutuhan darah menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberlangsungan pengobatan pasien thalasemia. Karena itu, kesiapan rumah sakit dalam menyediakan kebutuhan darah patut diapresiasi.
“Untuk kebutuhan darah penyembuhan pasien thalasemia saat ini juga sudah tersedia di rumah sakit IA Moeis,” pungkasnya.
Ia berharap peningkatan fasilitas, tenaga medis, serta layanan kesehatan tersebut terus dilakukan sehingga masyarakat Samarinda dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang semakin baik tanpa harus dirujuk ke daerah lain. (Adv/ DPRD Samarinda)





