SPASIKALTIM.com, BONTANG – Penyelenggaraan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 di Kota Bontang tahun ini mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah dengan alokasi anggaran sebesar Rp1,7 miliar. Kegiatan yang rutin digelar setiap dua tahun sekali ini tidak hanya fokus membangun infrastruktur, tapi juga mencakup penguatan sumber daya manusia dan penanaman nilai-nilai bela negara kepada masyarakat.
Dibandingkan proyek pembangunan biasa, TMMD dinilai jauh lebih efisien dari segi waktu pengerjaan. Jika pekerjaan yang dikerjakan kontraktor umum bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan, TMMD yang dimulai bulan Mei mendatang diperkirakan selesai hanya dalam waktu satu setengah bulan.
“Ini karena yang mengerjakan langsung personel TNI, Polri bersama warga. Bisa dikerjakan pagi, siang sampai malam, jadi prosesnya jauh lebih cepat,” ujar Wali Kota Bontang, Rabu (22/4/2026).
Meski waktunya lebih singkat, standar perhitungan biaya tetap sama. “Rencana anggarannya juga disusun berdasarkan standar dari Dinas PU, jadi hitungannya sama persis. Yang berbeda hanya pola pelaksanaannya saja,” tambahnya.
Ke depannya, kolaborasi seperti ini akan terus dijalankan, tapi tidak bisa diterapkan untuk seluruh proyek pembangunan. Hal ini dilakukan agar pelaku usaha lokal dan kontraktor tetap mendapatkan kesempatan bekerja dan mencari nafkah.
“Kalau semua dikerjakan dengan sistem swakelola sebenarnya saya lebih senang, tapi kita juga harus memikirkan penghidupan pihak lain. Harus ada keseimbangannya,” jelasnya.
Beberapa proyek besar di Bontang sudah menggunakan pola kerja sama serupa, salah satunya pembangunan pelataran Bontang Kuala yang nilainya mencapai sekitar 12 miliar rupiah. Proyek tersebut dikelola melalui skema sewa kelola dalam program bernama Karya Manunggal yang juga melibatkan peran TNI.
“Program ini sangat membantu pemerintah dan masyarakat, tapi kita tetap harus adil kepada semua pihak yang terlibat dalam pembangunan daerah,” pungkasnya. (*)





