SAMARINDA — Pemulihan fungsi Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto perlu disertai pemahaman mengenai keberadaan masyarakat di dalam kawasan. Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji meminta penanganannya dilakukan secara bijak dengan memperhatikan latar belakang warga yang tinggal maupun beraktivitas di hutan konservasi tersebut.
Menurut Seno, pemahaman terhadap kondisi lapangan menjadi bagian penting dalam menentukan pendekatan. Persoalan keberadaan masyarakat perlu ditelusuri agar langkah pemulihan kawasan dapat berjalan dengan tepat.
“Ini yang harus kita pahami, kenapa masyarakat ada di kawasan Tahura. Mungkin tidak hanya di Bukit Tengkorak, tetapi juga terjadi di tempat lain,” ujar Seno, Minggu (4/10/2026).
Ia menekankan perlunya edukasi kepada masyarakat. Penanganan tidak cukup bertumpu pada urusan administratif dan penertiban, tetapi juga membutuhkan komunikasi yang membantu warga memahami fungsi kawasan konservasi.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemprov Kaltim untuk mengembalikan fungsi utama Tahura Bukit Soeharto. Seno meminta seluruh pihak memiliki arah yang sama dalam menjaga kelestarian kawasan.
“Ini satu visi. Tahura Bukit Soeharto adalah paru-paru Kalimantan yang harus kita jaga bersama. Kita harus mengembalikan fungsi Tahura ini dengan benar,” katanya.
Bagi Seno, upaya menjaga kawasan harus berjalan bersama pendekatan persuasif kepada masyarakat. Pemahaman mengenai kondisi warga dan aktivitasnya diperlukan agar kebijakan yang ditempuh tetap memperhatikan aspek keadilan.
Pemprov Kaltim berharap edukasi dan pemahaman lapangan yang menyeluruh dapat memperkuat dukungan masyarakat terhadap pemulihan Tahura. Dengan keterlibatan berbagai pihak, pengembalian fungsi konservasi diharapkan berjalan efektif sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.





