SPASIKALTIM.COM, SAMARINDA – DPRD Kota Samarinda meminta pemerintah tidak hanya berpatokan pada persentase statistik dalam melihat persoalan pengangguran. Data ketenagakerjaan dinilai perlu disajikan lebih rinci agar kondisi riil masyarakat yang belum mendapatkan pekerjaan dapat diketahui secara jelas.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengatakan angka pengangguran terbuka berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang turun menjadi 5,31 persen pada 2026 memang patut diapresiasi. Namun menurutnya, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan.

“Kita juga harus melihat jumlah riil masyarakat yang masih menganggur, bukan hanya persentasenya saja,” ujarnya, Kamis (7/8/2026).

Ia menilai persoalan ketenagakerjaan di Samarinda masih menjadi tantangan serius. Setiap tahun jumlah lulusan baru dari SMA, SMK, hingga perguruan tinggi terus meningkat, sementara kemampuan lapangan kerja dalam menyerap tenaga kerja dinilai belum tentu sebanding.

“Setiap tahun ada fresh graduate baru. Pertanyaannya apakah lapangan kerja yang tersedia mampu menampung semuanya,” katanya.

Selain keterbatasan daya serap tenaga kerja, Puji juga menyoroti fenomena banyaknya lowongan pekerjaan yang belum sepenuhnya diminati pencari kerja lokal. Dalam beberapa pelaksanaan job fair, ditemukan sejumlah peserta yang memilih mundur meski telah dinyatakan lolos seleksi perusahaan.

“Lowongan kerja memang banyak dibuka, tetapi ada juga yang setelah diterima justru memilih mundur karena merasa pekerjaan tersebut tidak sesuai,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian perusahaan akhirnya merekrut tenaga kerja dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan operasional dan tenaga kerja yang tersedia.

Karena itu, DPRD Samarinda mendorong Pemerintah Kota melalui Dinas Tenaga Kerja agar terus memperkuat program pelatihan, peningkatan keterampilan, serta pembinaan tenaga kerja lokal agar lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja saat ini.

Puji menegaskan bahwa keberhasilan menekan angka pengangguran seharusnya tidak hanya terlihat dalam laporan statistik, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat melalui terbukanya kesempatan kerja yang lebih luas.

“Yang paling penting bagaimana pengangguran terbuka di Samarinda benar-benar berkurang dan masyarakat bisa memperoleh pekerjaan yang layak,” tegasnya.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan dapat terus diperkuat guna menciptakan sumber daya manusia yang kompetitif serta mampu menjawab kebutuhan industri dan perkembangan dunia kerja modern. (*)