SPASIKALTIM.COM – Anggota DPR RI Komisi V, Sadarestuwati, tengah menjadi sorotan publik usai melontarkan kritik tajam kepada salah satu provider telekomunikasi pelat merah, Telkomsel. Dalam sebuah rapat resmi, ia menyoroti praktik hangusnya sisa kuota internet pelanggan yang dianggap merugikan masyarakat.
Aksi Sadarestuwati terekam dalam video berdurasi 3 menit 25 detik dan diunggah akun @kgblgunfaedh pada 8 Juli 2025 di platform X (Twitter). Tak butuh waktu lama, video tersebut langsung viral dan memicu gelombang reaksi dari warganet.
“Telkomsel kejam, melenyapkan sisa kuota dari para penggunanya. Terus, kemana sisa kuota ini?” tegas Sadarestuwati dalam video tersebut.
Ia mengatakan kuota yang tidak terpakai semestinya tidak serta-merta dihapus begitu saja, melainkan tercatat sebagai bagian dari laba perusahaan. Politisi PDI Perjuangan itu juga meminta adanya transparansi dari pihak Telkomsel.
“Menurut saya, sisa kuota ini harusnya masuk di dalam laba dari Telkom. Nah, selama ini kemana sisa itu? Pastinya, sisa kuota yang ditinggalkan para pengguna ini tidak sedikit, Ibu. Boleh dong kami nanti diberikan hitung-hitungannya.” Ujarnya dalam video tersebut.
Pernyataan itu langsung memicu respons luas dari warganet. Komentar demi komentar membanjiri platform X (Twitter), menumpahkan kekesalan mereka terhadap layanan Telkomsel.
Salah satunya dari akun @voneastjava yang menulis:
“Udah mahal, 28 hari, kalau ada sisa ilang, kalau ada cepat habis padahal gak game, gak streaming, gak TikTok, gak YouTube. Bahkan kuota sisa 200 MB ditinggal mandi aja langsung 0 padahal gak lagi buka app apapun,” tulisnya.
Komentar lainnya lebih pedas, menyoroti keuntungan perusahaan:
“Busyet, perusahaan monopoli sekelas Telkomsel selama kurun waktu 4 tahun lebih labanya cuma 20 M. Bujug buset, ini BUMN apa swasta yang mo colaps juga?” tulis akun @fathullahfathu2.
Ada juga yang mempertanyakan sistem masa aktif paket yang dinilai tidak masuk akal:
“Yang kocak kenapa jadi 28 hari? Lu pake kalender apa dah? 28 itu PPN 2 hari???,” sindir akun @bloiloii.
Banyak pengguna internet pun mulai mempertanyakan ke mana sebenarnya “laba” dari kuota hangus tersebut mengalir, dan apakah ada bentuk kompensasi atau akuntabilitas dari perusahaan penyedia layanan. (*)





