SPASIKALTIM.COM, SAMARINDA – Rencana pembentukan Koperasi Merah Putih di Kota Samarinda mendapat perhatian dari DPRD Kota Samarinda. Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengingatkan agar program tersebut tidak sekadar menjadi pembentukan lembaga baru tanpa arah yang jelas, melainkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan berkontribusi terhadap penguatan ekonomi kerakyatan.
Menurut Iswandi, keberadaan koperasi harus dirancang secara matang agar tidak menimbulkan persaingan langsung dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini telah tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Ia menilai, apabila koperasi hanya menjalankan usaha yang sama seperti toko ritel atau apotek, maka potensi benturan kepentingan dengan pelaku usaha lokal akan sulit dihindari.
“Koperasi harus hadir untuk memperkuat ekonomi masyarakat, bukan justru menjadi pesaing usaha yang sudah berjalan. Yang terpenting adalah memberikan nilai tambah dan menjawab kebutuhan warga,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).
Dengan rencana pembentukan Koperasi Merah Putih di 59 kelurahan se-Kota Samarinda, Iswandi mengusulkan agar koperasi tersebut diarahkan pada sektor yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat. Salah satu sektor yang dinilai potensial adalah distribusi LPG subsidi 3 kilogram yang selama ini masih kerap mengalami persoalan ketersediaan dan distribusi di lapangan.
Menurutnya, koperasi dapat berperan sebagai agen distribusi LPG sehingga penyaluran gas bersubsidi menjadi lebih merata, transparan, dan mudah dijangkau masyarakat hingga tingkat rukun tetangga (RT).
“Kalau koperasi menjadi agen LPG 3 kilogram, distribusinya bisa langsung sampai ke masyarakat. Ini jauh lebih efektif dibanding membuka usaha yang sudah banyak pesaingnya,” jelasnya.
Selain itu, Iswandi juga mendorong pembentukan konsorsium atau kerja sama antar koperasi di tingkat kelurahan. Dengan dukungan modal dan potensi anggaran yang dimiliki masing-masing wilayah, sinergi tersebut diyakini mampu membuka peluang usaha yang lebih besar dan berkelanjutan.
Ia bahkan menilai konsorsium koperasi dapat berkembang hingga memiliki fasilitas pendukung distribusi LPG secara mandiri, sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Kalau digabungkan dalam satu sistem, ini bisa menjadi kekuatan besar. Kita bisa dorong sampai pada pembangunan fasilitas pengisian LPG. Ini akan jauh lebih jelas arah dan manfaatnya bagi masyarakat,” tambahnya.
Iswandi berharap Pemerintah Kota Samarinda dapat mempertimbangkan usulan tersebut dalam menyusun konsep Koperasi Merah Putih. Dengan perencanaan yang tepat, koperasi diharapkan tidak hanya menjadi program administratif, tetapi benar-benar berfungsi sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi rakyat sekaligus solusi terhadap kebutuhan energi masyarakat.





